Dionisius dan Redemptus

Pada umur 19 tahun, Pierre Berthelot sudah menjadi pelaut ulung. Sejak kecil (12 tahun) ia telah mengikuti ayahnya, seorang dokter dan nahkoda kapal, mengarungi samudera luas. Selain darah pelaut, dari ayahnya ia mewarisi kehidupan keagamaan kuat yang tercermin dalam kerendahan hati, kekuatan iman, kemurnian dan kesediaaan menolong. Kemudian ia memasuki dinas perusahaan dagang Perancis. Dalam rangka tugas dagang ia berlayar sampai ke Banten. Tetapi terjadi perselisihan dengan kongsi dagang Belanda – V.O.C. – sehingga kapalnya dibakar. Berkat pengalamannya mengarungi samudera luas dari Madagaskar sampai Sulawesi, ia sangat pandai membuat peta laut dan memberikan petunjuk jalan. Uang dan pangkatnya tidak mengecewakan. Kemudian ia bekerja pada angkatan laut Portugis di Goa (India). Namun Pierre tidak puas. Ada keresahan yang senantiasa mengusik batinnya. Ia selalu merenungkan dan mencari arti hidup yang lebih mendalam. Kala itu umurnya sudah 35 tahun. Akan tetapi usia tidak menghalangi dorongan hatinya untuk hidup membiara. Ia diterima di biara Karmel. Namanya diubah menjadi Dionisius a Nativitate. Sekalipun telah membiara, ia masih beberapa kali menyumbangkan keahliannya bagi pemerintah, baik dengan menggambar peta maupun dengan mengangka senjata membuyarkan blockade di Goa yang dilancarkan oleh armada Belanda (1636). Di biara ia bertemu dengan Bruder Redemptus a Cruce, bekas tentara Portugis yang meninggalkan dunia ramai demi mencari hidup lebih dekat dengan Tuhan. Pekerjaan bruder ini kesehariannya amat biasa : menjaga pintu biara, menerima tamu dan mengajar anak-anak. Demi cintanya pada Yesus ia berpuasa dan melakukan pekerjaan yang begitu berat, sehingga kerapkali dilarang oleh atasannya.

Suatu ketika raja muda di Goa hendak mengirimkan utusan ke Aceh yang baru saja berganti sultan. Ia ingin menjalin persahabatan, karena hubungannya dengan sultan terdahulu tidak begitu baik. Frater Dionisius ditunjuk sebagai almosenir, juru bahasa dan pandu laut. Maka pentahbisan imamatnya dipercepat. Bruder Redemptus minta ikut serta sebagai pembantu, karena “saya ingin menjadi martir’. Syukurlah atasannya mengijinkan. Setiba di Aceh, yang mereka peroleh bukan persahabatan : orang Belanda sudah menghasut Sultan Iskandar Thani, bahwa Portugis dating hanya untuk meng-katolik-kan bangsa Aceh. Maka Pater Dionisius, Bruder Redemptus dan 60 anggota isi perdamaian dan perdagangan itu ditangkap, dipenjara dan disiksa agar mengingkari iman mereka. Selama sebulan mereka meringkuk dalam penjara dalam keadaan yang sangat menyedihkansupaya murtad. Namun hanya beberapa orang saja yang mengingkari imannya. Sebab kedua rahib it uterus menguatkan iman mereka, supaya tidak tergoda membeli kebebasan dengan mengkhianati Yesus. Di pesisir utara tentara sultan mengumumkan, bahwa mereka dihukum bukan Karen berkebangsaan Portugis, melainkan karena beriman Katolik. Maklumat sultan ini diterjemahkan oleh Dionisius kepada teman-temannya. Sebelum menyerahkan nyawa pada algojo, mereka semua berdoa dan Pater Dionisius mengambil salib dan memperlihatkan kepada mereka supaya tidak mundur, namun bersedia mengorbankan nyawa demiKristus yag Tersalib dan telah menebus dosa dunia, dosa mereka. Dalam doa ia memohonkan ampun kepada Tuhan dan memberikan absolusi terakhir kepada mereka satu per satu. Segera tentara menyeret Dionisius ke samping dan mulailah pembantaian masal. Anak-anak panah terpental dri busurnya dan berseliweran mendesing-desing mencari sasaran tubuh-tubuh empuk. Dan mereka pun tersungkur, darah mengucur tak terkecuali Bruder Redemptus para penonton yang sedari pagi menantikan acara itu tiba-tiba meledak tertawa kegirangan. Dari desah nafas terakhir Bruder Redemptus terucap rintihan dan sebutan nama Yesus dan Maria. Tubuh-tubuh tak bernyawa itu disambut sorakan dan kekejaman rakyat, tapi jiwa mereka disambut dengan senyuman sukacita oleh para kudus di surga.

Sepeninggal teman-temannya Pater Dionisius masih bersaksi tentang Kristus dengan berkobar-kobar. Tapi khotbah itulah semakin memuncakkan kebencian penonton. Algojo memerintahkan para penombak agar mengakhiri nyawanya. Mereka pun serentak maju dengan tombak siap ditancapkan. Namun langkah mereka berhenti di hadapan Dionisius. Dengan sekuat tenaga mereka menghunus kelewang dan tombak di tangan siap dihujamkan ke tubuh Dionisius. Tetapi seolah-olah ada yang menahan, sehingga tiada yang berani. Segera kepala ajgojo mengirim utusan kepada sultan untuk meminta bantuan. Pater Dionisius berdoa kepada Tuhan, supaya niatnya menjadi martir dikabulkan. Dan akhirnya permintaan itu diluluskan Tuhan. Seorang algojo – orang Kristen malaka yang murtad – mengangkat gada dan disambarkan keras-keras mengenai kepala Dionisius. Ronde kedua disusul dengan kelewang yang melayang-layang memisahkan kepala Dionisius dengan tubuhnya. Setelah itu kekudusan Dionisius disahkan Tuhan : mayatnya tidah selama tujuh bulan tidak hancur, bahkan Nampak segar bak tidur saja. Menurut saksi mata, jenazah Dionisius merepotkan orang sekitarnya, karena setiap kali dibuang – ke laut dan tengah hutan – senantiasa kembali lagi ke tempat ia dimartir. Akhirnya jenazah itu dibaringkan di pulau Dien ‘pulau buangan’, namun kemudian dibawa dan dimakamkan di Goa, India.

Dionisius (Pierre Berthelot) lahir di Honfleur (Perancis, 2600) dan Redemptus e Cruce (Thomas Rodrigues da Cunha) lahir di Paredes (Spanyol, 1598) ; biarawan Karmel dan martir di Aceh (November 1638). Digelarkan bahagia (beato) pada tahun 1900. Kedua beato ini dihormati dan diperingat setiap tanggal 1 Desember.

Published in: on February 2, 2009 at 3:04 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://permana1988.wordpress.com/2009/02/02/dionisius-dan-redemptus/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: