Barbara

“Manisku, ayah harus pergi!” kata seorang pedagang yang sering mengadakan perjalanan jauh kepada puterinya, “Selama ayah pergi,” sambungnya, “ayah akan menguncimu di loteng atas dalam menara supaya kau selamat. Dalam menara itu akan kubuatkan dua jendela untukmu, supaya kau bias mengamati keindahan laut dan bila ayah kembali, kau bisa mengetahuinya.” Puteri itu Barbara, ia cantik rupawan dan amat dicintai ayahnya. Karena itulah ayahnya membesarkan Barbara dengan sangat baik dan tidak mau kehilangan puterinya.

Ketika ayah itu pulang, ia melihat suatu keganjilan pada menara puterinya : kini ada tiga jendela dan terpaku sebuah tanda salib di atas pintu menara. Ia mengamati dengan teliti dan tertegun cemas. Kemudian dengan lantang ia mengardik Barbara : “Apa yang telah kau perbuat?” Barbara menerangkan apa yang terjadi selama ayahnya bepergian : “Ketika ayah pergi, aku memanggil seorang imam. Ia sangat baik dan mengajariku tentang Bapa Yang Mahabaik yang mengutus Putera TunggalNya ke dunia ini untuk menyelamatkan kita. Tapi putera yang bernama Yesus itu dibunih di kayu salib.” “Lalu??” kata ayahnya gusar. Kata Barbara melanjutkan : “Kini Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus yang membimbing kita kepada Bapa di Surga. Aku sungguh yakin dan mohon diselamatkanTuhan Yesus. Maka imam itu membabtis aku. Untuk menghormati Tritunggal kudus, Barbara menambahkan jendela ketiga. Karena Yesus yang disalib niscaya melindungiku, maka kupasang salib di atas pitu masuk.”

Ayahnya melotot! Ia geram dan tidak senang dengan perbuatan puterinya. Sebab, ayah itu masih percaya pada dewa-dewa. Ia menjadi gelap mata. Ia menyeret Barbara yang amat dicintainya sambil berteriak : “Ikuti aku ke pengadilan dan kau harus menyangkal kepercayaanmu yang tak masuk akal itu!” Ketika itu arbara baru berusia 14 tahun, sehingga hakim tidah berani berbuat apa-apa. Ayahnya tambah berang dan menyeret Barbara untuk diserahkan kepada para algojo, agar disiksa supaya murtad. Namun sia-sia usaha ayah itu. Barbara tetap sitia kepada imannya. Akhirnya, ayahnya menghunus pedangnya dan menebas leher puterinya sendiri. Pada saa itu juga ayahnya disambar petir dan mati seketika. Carita ini terdapat dalam buku-buku kuno, meski belum tentu demikian kejadiansemua peristiwa itu.

Barbara, perawan dan martir ; hidup di Yunani dan meniggal pada tahun 306. Melalui Barbara, orang-orang memohon rahmat Tuhan untuk dapat mati dengan baik dan dalam keadaan siap.nia dihormati sebagai pelindung tentara artileri. Peringatan akan Santa Barbara dilakukan pada tanggal 4 Desember.

Published in: on January 29, 2009 at 4:57 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://permana1988.wordpress.com/2009/01/29/barbara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: