Agustinus

Ayahnya mendambakan supaya Agustinus yang cerdas itu kelak menjadi orang termasyur. Maka ia mengirimnya ke sekolah-sekolah terbaik : mulai di Afrika Utara, tempat kelahirannya, kemudian Roma dan Milano. Agustinus membaca dengan tekun segala buku ilmiah yang dapat diperolehnya. Ia mengunjungi orang cerdik pandai dan belajar dari mereka. Hasilnya : Agustinus menjadi mahaguru kenamaan. Sering orang-orang Roma berbondong-bondong dating hanya untuk mendengar ceramah dan pidatonya. Pada waktu itu Agustinus masih kafir dan banyak sekali berbuat dosa. Dari seorang gundik ia mendapat seorang anak yang mati muda. Agustinus mengikuti Manikeisme, suatu aliran keagamaan dari Persia.

Tetapi hatinya bergejolak dan tidak tentram : ‘Hatiku gelisah. Rupanya belum segala sesuatu aku ketahui.’ Monika, ibunya, sejak mula niscaya mengatakan bahwa Agustinus harus membaca sabda Tuhan dalam injil. Dalam sabda Tuhan itulah terdapat lebih banyak kebijaksanaan dan kebenaran daripada ilmu-ilmu duniawi. Agustinus tergelak mencemooh : “ Kitab suci terlalu sederhana bagiku. Tak akan menambah pengetahuanku sedikit pun!” Tetapi ibu Monika tetap tabah dan berdoa terus, agar anaknya mau manjadi Kristen.

Di Milano, Agustinus bertemu dengan Uskup Ambrosius, seorang bekas gubernur. Agustinus menyaksikan dari dekat hidup para biarawan yang berbahagia dan mengikuti suatu tata tertib yang tegas. Mereka bijaksana dan ramah. Agustinus tersentuh hatinya dan mulai berpikir : Ijilkah yang menjiwai hidup mereka itu? Ia mulai merenung dan bersamadi. Suatu hari ia mendengar suara seorang anak namun tak terlihat : ‘Ambil dan bacalah!’ Agustinus menjamah kitab injil itu, membukanya dan membaca : ‘Marilah kita hidup sopan seperti yang dilakukan orang pada siang hari, jangan berpesta pora dan mabuk-mabukan. Jangan berbuat cabul dan menuruti hawa nafsu. Jangan berkelahi dan iri hati. Kenakanlah Tuhan Yesus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.’ (Rom 13,13-14)

Agustinus yang telah banyak mendalami filsafat itu akhirnya terbuka pikirannya dan melihat kebenaran sejati, yakni wahyu Ilahi yang dibawakan oleh Yesus Kristus. Ia dibabtis pada umur 32 tahun. Tujuh bulan sesudahnya, ibunya meninggalkan puteranya menghadap bapak dengan tenang. Agustinus kembali ke Afrika. Di tanah kelahirannya itulah ia ditahbiskan imam, dan pada usia 41 tahun diingat menjadi uskup kota Hippo. Ia menggoreskan rasa syukur dan terimakasihnya kepada Tuhan dalam bentuk nyanyian dan banyak buku yang ditulisnya. Tak terbilang jumlahnya orang berdosa yang bertobat karena membaca buku-bukunya. Demikianlah Tuhan yang Mahabaik telah mengubah seorang yang berbuat dosa menjadi seorang suci yang ternama.

Agustinus, usku dan pujangga gereja, putera Santa Monika. Lahir tahun 354 di Tagaste (Afrika Utara). Bukunya yang terkenal : “Pengakuan” dan “Negara Tuhan”. Ia menulis aturan hidup membiara. Wafat tahun 430 di Hippo ; pelindung para calon imam (seminaris). Agustinus berarti yang agung dan mulia. Santo Agustinus dilambangkan dengan tongkat dan mitra uskup. Gereja Katolik menghormatinya pada tanggal 28 Agustus.

Published in: on January 29, 2009 at 3:30 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://permana1988.wordpress.com/2009/01/29/agustinus/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: